Minggu, 31 Mei 2015

Jadi bundanya Iqbal

Assalamu’alaikum
Alhamdulillah..akhirnya tersampaikan di bulan Juni. Bulan Juni bagi saya masih saja terasa istimewa, mungkin karena selama 20 tahun lebih saya menganggap bulan Juni adalah bulan di mana saya dilahirkan.

Sudah lama saya absen dari dunia blog ini, terakhir posting sejak sebelum cuti melahirkan. Alhamdulillah sekarang buah hati telah lahir dan usianya sudah jalan 4 bulan, otomatis gelar IBU sudah resmi saya sandang, secara resmi pun sudah diakui negara soalnya Iqbal sudah punya akte kelahiran, meski kadang saya merasa tersanjung gegara ada SPG yang sungkan memanggil saya “Bu” karena katanya saya masih muda, padahal mah saya sudah masuk usia seperempat abad ini ^^ *pipi saya jadi memerah*

Kali ini saya mau berbagi tentang indahnya menjadi seorang ibu. Alhamdulillah Jumat, 13 Februari 2015 pukul 05.59 dari rahim saya ini lahir seorang anak laki-laki sholeh (insyaAllah, aamiin). Tentang rasanya melahirkan? Subhanallah, luar biasa, pantas saja Allah menjanjikan surga dengan gelar syahid bagi seorang ibu yang meninggal karena melahirkan. Perjuangan seorang ibu tak selesai  di situ saja, setelah melahirkan seorang ibu harus menyusui dan merawat anaknya. Dan tak heran, dalam hadist shahihnya Rasulullah S.A.W memerintahkan untuk berbakti pada ibunda 3X baru kepada ayah. Mungkin karena untuk ‘membalas’ perjuangan ibu mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat anak yang untuk melakukannya butuh tenaga dan kesabaran ekstra.

Haduh, kok rasa-rasanya saya masih kaku ya buat nulis panjang lebar. Yah, karena ini pemanasan jadi saya rasa cukup dulu lah ya, hhehe

Untuk pelengkapnya saya posting video Iqbal saja. Owh iya, nama anak lelaki sholeh saya Iqbal Fauzi Adiwibowo, ini nama pemberian ayahnya, nama belakang pake nama ayahnya. Awalnya mau dikasih nama Iqbal Hamzi Adiwibowo, tapi karena eyang kakungnya tidak setuju akhirnya digantilah menjadi seperti sekarang.



Ini video lama sebenarnya, saya rekam tanggal 5 Mei 2015 saat iqbal masuk usia 3 bulan. Kalo sekarang Iqbal uda lebih gede, dan alhamdulillah uda bisa tengkurep sendiri, insya Allah lain kali aku buat rekamannya.

Selasa, 03 Februari 2015

Menanti hadir buah hati

Bismillah,
InsyaAllah hari ini adalah 2 hari terakhirku masuk kerja sebelum masa cuti untuk melahirkan anak pertamaku. Rasanya? Alhamdulillah, luar biasa, aku merasa tak sabar ingin merasakan ‘nikmat’nya melahirkan dan segera mendengarkan-meraba-melihat wujud anak yang akan terlahir dari rahimku.

Adek iparku pernah bertanya, “Nggak takut Mbak ngebayangin mau ngelahirin?”. Aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan tegas, “Enggak takut sama sekali, kan belum pernah ngerasain sakitnya.”. Iya, mungkin karena aku baru mau pertama kali melahirkan, yang ada cuma perasaan bahagia untuk menyambut buah hati. Tentang rasa sakit melahirkan normal, aku tahu pasti rasanya pasti sakit, Maryam ibunda dari Nabi Isa alaihi salam juga merasakan sakit yang sangat alamiah itu. Ah, tapi aku yakin, semua rasa sakit itu akan segera lenyap ketika kita bisa melihat wujud dan mendengar suara tangis bayi kita. Buah hati yang aku nantikan selama ini. Dan insyaAllah sebentar lagi cita-cita tertinggiku untuk menjadi seorang ibu akan segera terwujud.


Tak banyak kata lagi yang mampu kurangkai untuk ungkapkan segala rasa yang saat ini berpendar di hatiku, cukuplah sekiranya video ini mewakilkan perasaanku.


sumber video: klik

Kamis, 11 September 2014

caraku mencintai suami (3)

Pagi ini rasanya terharu banget waktu tiba-tiba suami mengelus kepala saya, bukan hal yang luar biasa juga soalnya suami memang cukup sering mengelus kepala dan saya pun sangat senang dengan perlakuannya, saya merasa sangat disayang saat dielus. Hal luar biasanya yang membuat saya terharu adalah saat mengelus kepala saya suami berbisik, “Makanan yang semalem buat kamu uda dimakan adek”. Aku tersenyum dan menjawab, “Iya, nggak papa”. Tapi jujur, saat melihat suami ada perasaan perih, sedikit terharu, saya tahu pasti ada perasaan kecewa yang suami rasakan. Sejak semalam suami sudah ‘kehilangan’ 2 jenis makanan yang sebenarnya ingin diberikan kepada saya, sebagai wujud cinta dan perhatiannya pada istri.

Ah..melankolis sekali saya, air mata tak mampu saya bendung melihat kekecewaan di matanya, tapi saya tak mau suami melihat air mata saya menetes. Ini bukan tentang nilai makanannya, tapi soal usaha suami. Usaha suami untuk istrinya, untuk membahagiakan, untuk mewujudkan rasa cintanya. Saya jadi teringat tentang beberapa hal yang sebelumnya saya tak mengerti maksud suami.

Dulu sebelum menikah, (calon) suami saya telepon, dia meminta saya untuk menghafalkan nomer hp nya, setengah memaksa, dia mengajari saya cara cepat untuk menghafalkannya. Alhamdulillah, tak butuh waktu yang lama saya pun bisa menghafalkannya. Waktu itu saya mau melakukannya hanya demi menghormati dan membalas perhatiannya, karena tanpa saya minta dia sudah menghafal nomer saya. Saat hp saya tertinggal atau saat hp suami hilang, manfaat dari menghafal nomer pasangannya baru saya rasakan. Saya jadi mengerti, suami ingin dia lah yang saya hubungi di saat-saat genting dan sangat butuh bantuan. Dia ingin saya menjadikan dia sebagai prioritas dalam segala keadaan, begitu pun sebaliknya.

Ketika suami marah karena saya sering menunda waktu makan, awalnya saya ingin membalasnya dengan kemarahan. Dari dulu, sejak sebelum menikah, saya memang terbiasa makan telat, bahkan saya leih memilih tidur dulu daripada makan. Ah, tapi lagi-lagi saya dibuat menangis tersedu-sedu, suami saya sangat mencintai saya dan tak ingin saya sakit, sama halnya saat dia rela tidur di ruang tv demi mencegah saya tertular flu karena suami sedang mengidap flu berat.

Ah..memang terkadang saya yang kurang peka dengan perhatian dan cara suami mencinta.

Maaf ya mas, saya masih harus banyak belajar untuk menjadi istri yang baik untukmu. Terima kasih untuk segala cintamu, I love you more than I can say :*

Jumat, 29 Agustus 2014

Sejuta Rasa jadi Calon Bunda (1)

Menjadi seorang ibu adalah cita-citaku yang lama sudah aku impikan, bahkan cita-cita ini mendahului cita-citaku menjadi seorang istri. Padahal, tak mungkin kan ya, aku melahirkan sebelum menikah terlebih dahulu. Yah, mungkin ini karena naluri kewanitaanku untuk menjadi seorang ibu terlalu tinggi.

Menjelang menikah, aku mempersiapkan diri untuk hal ini, kebetulan tanggal menikahku itu saat masa subur berdasarkan kalender bulananku. Jadi dengan semangat menggebu aku sudah mengkonsumsi susu khusus untuk persiapan hamil. Waktu itu aku bilang ke (calon) suami, tentang keinginanku untuk segera punya momongan. Gayung pun bersambut, ternyata (calon) suamiku juga pengen segera punya momongan, alhamdulillah kami satu visi.

Ah, tapi ternyata kami harus bersabar, 2 minggu kemudian tamu bulananku datang lagi. Bulan berikutnya ternyata juga. Bulan berikutnya lagi, tamu bulananku datang terlambat, aku sudah sangat berharap, bahkan aku sudah melakukan testpack, hasilnya negatif, dan ini cukup membuatku trauma. Bulan depannya lagi tamuku terlambat lagi, tapi aku enggan untuk melakukan testpack, mau menunggu lebih lama lagi saja, aku sangat takut kecewa. Apalagi melihat kecewanya suami, aku nggak tega.


Benar saja, saat terlambat masuk hari ke-5, paginya aku merasa tamuku sudah datang lagi. Aku sudah pasrah. Aku nggak mau berharap. Aku takut kecewa. Aku pun segera memberitahu suami, tamu bulananku datang lagi, aku memintanya bersabar. Sorenya aku merasa bingung, tamu bulananku kali ini agak berbeda, tak seperti biasanya. Darah yang keluar cuma sedikit, bisa dibilang hanya flek saja. Malamnya, malah sama sekali nggak keluar. Ada apa dengan aku? Mungkinkah aku hamil? Esok harinya, sepulang kerja aku beli testpack. Saat mandi sore aku memberanikan diri untuk testpack, apa pun hasilnya aku siap. Dan..masyaAllah testpack-ku hasilnya positif. Rasanya aku ingin menangis. Aku hamil ya Allah. Seusai mandi, aku segera ke kamar ingin memberitahu suami, tapi aku ingin sedikit memberi dia kejutan. Tanpa berkata-kata aku memperlihatkan hasil testpack-ku ke suami, dia memeriksanya dan spontan bertanya, “Kamu hamil?”. Aku pun tersenyum sambil mengangguk. MasyaAllah, suami langsung memelukku erat, setelah itu dia berlari ke dapur memberitahu ibu mertua. Aku hanya tersenyum saja mendengar kebahagiaan mereka, Alhamdulillah, setelah 3 bulan menikah akhirnya kami diberikan karunia ini.

Kamis, 21 Agustus 2014

caraku mencintai suami (2)

Sudah lama aku nggak nulis di blog ini, setelah menikah aku sadar aku sangat jarang menggunakan sosmed kecuali bbm. Syndrome orang abis nikah kali ya, hhehe.

Kali ini aku sedang berusaha membuang rasa malas, aku ingin menulis, dan aku ingin sekali menulis tentang suamiku, yah..meski ini tulisan mungkin sangat nggak bermutu, tapi sungguh aku ingin sekali menulis. Alhamdulillah, rasa syukur kupanjatkan padaMu ya Robb yang telah menghadirkan seorang suami yang begitu menyayangiku dan selalu bersabar menerima segala kekuranganku. Jaga dia ya Robb, ampuni dosa-dosanya dan perbaiki kekurangan-kekurangnnya serta dekaplah selalu dia dalam hidayahMu, jadikan dia imam yang baik untukku agar kami bisa saling menuntun menuju syurga-Mu. Aamiin

Sungguh, aku tak akan mengkufuri nikmat Allah berupa suami yang begitu romantis dan perhatian kepadaku, dan semoga sampai kapan pun aku tak akan pernah mengkufuri nikmat ini.

Aku nggak berniat memamerkan manisnya suami kepada dunia dan membuat panas bagi yang belum menikah. Sama hal-nya dengan suamiku yang selalu bilang: “aku sangat bersyukur mendapatkan istri seperti kamu.”, aku pun sangat bersyukur mendapat suami sepertinya, jadi aku merasa perlu menuliskan dan menunjukkan pada dunia tentang kebaikan suamiku pada dunia J

Sikap romantis yang pertama dan akan selalu membekas di hatiku adalah ketika (calon) suamiku mengenalkan dirinya pada keluarga saat pertama kali kami bertemu dan dengan beraninya dia langsung meminta pada kedua orang tuaku, menyampaikan tujuannya: ingin mengenalku dan jika aku berkenan ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Ah..sungguh, jujur, mendengarnya aku langsung luluh. Caranya meminta pada orang tuaku, sangat santun dan tak berbelit-belit. Sebelumnya aku pernah berta’aruf dengan seorang pria, tapi caranya berbeda, kurang gentleman aku bilang. Apalagi kalo dibandingkan dengan beberapa lelaki yang juga pernah berniat meminangku, mereka terkesan memaksaku, tak memberi aku pilihan.

Hal romantis kedua yang aku terima dari (calon) suamiku adalah ketika aku diajak ke rumahnya untuk dikenalkan dengan orang tua, adek dan neneknya. Rasanya luar biasa saat dia kembali datang ke rumah, lalu meminta izin pada ayahku: saya mau meminjam putri bapak untuk dikenalkan dengan orang rumah. Mendengar setiap kata yang terucap olehnya, membuatku yakin untuk menerimanya.

Hal romantis ketiga yang (calon) suamiku lakukan sebelum kami menikah adalah dia membawaku ke rumah temannya yang berprofesi sebagai penjahit. Awalnya aku benar-benar tak mengerti dengan jalan pikirannya, untuk apa aku diajak ke penjahit. Ternyata dia ingin mempersiapkan gaun untuk akad nikah kami. What??? Aku hampir tak percaya, dia berpikir sejauh itu, aku tak pernah memintanya, berpikir saja aku tak pernah. Aku tak pernah merencanakan membuat baju untuk pernikahanku.

Sikap-sikap romantis berikutnya tentu saja proses-proses menuju pernikahan kami: saat proses khitbah resmi, mendaftar di KUA dan tentu saja saat prosesi akad. MasyaAllah, begitu banyak hal yang uda suamiku lakukan dan perjuangkan demi lancarnya proses menuju pernikahan kami. Semua urusan administrasi untuk pendaftaran di KUA yang ngurus (calon) suami. Bahkan pasfotoku untuk syarat administrasi saja, (calon) suamiku yang nyetakin, hhehehe..manja sekali ya aku.

Itu hal-hal romantis yang pernah suamiku lakukan sebelum kami menikah. Setelah menikah? Ah, tentu saja lebih banyak, dari hal-hal kecil seperti memanaskan air untuk mandiku, mengecup keningku setiap malam sebelum dia tidur, dan lain sebagainya, bahkan ada hal yang mampu membuatku menitikkan air mata: suamiku rela tidak tidur malam saat aku opname, demi memastikan cairan infusku yang hampir habis,  dan masih banyak hal romantis yang dia lakukan tapi nggak bisa aku ceritakan pada dunia karena bisa jadi dosa, hehhe.

Yah, pada akhirnya, hanya ada satu ayat yang kini terngiang: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Teruntuk suamiku, bapak dari (calon) anakku, I LOVE YOU MORE THAN I CAN SAY

ini suami menuhin janji ngajak ke telaga warna dieng



Jumat, 11 April 2014

caraku mencintai suami : VSP #1


Jangan berlebihan, karena sebuah bandul yang mengayun ke kanan, suatu saat juga pasti akan kembali mengayun ke kiri”
« Ust. Salim A. Fillah »

Belajar dari apa yang dikemukakan oleh ustadz Salim A. Fillah, untuk menahan diri tidak berlebihan dalam mengekspresikan perasaan, terutama untuk yang sedang aku rasakan saat ini yakni rasa bahagia karena telah menemukan seseorang untuk menggenapi dien, maka aku pun berusaha untuk bahagia sewajarnya, menyadari bahagiaku ini bisa jadi merupakan ketidakbahagiaan orang selainku.

Itu sebabnya, foto-foto yang pernah aku “pamerkan” di fb pun aku cukupkan. Aku memilih fb sebagai media upload foto-foto pernikahan karena di fb lah teman-teman lebih banyak bersosialisasi. Dan sekarang aku merasa sudah cukup waktu untuk memberikan kabar kepada orang-orang, bahwa aku telah menikah, karena Rasulullah mengajarkan untuk mengumumkan hal pernikahan agar tidak terjadi fitnah.

Akan tetapi, maaf untuk yang mungkin membuka blog pribadi aku ini dan akun instagram-ku. Tidak ada maksud pamer, aku hanya ingin menyimpan sesuatu yang aku buat untuk suamiku di media ini. Untuk foto-foto yang aku buat di saat aku kerja (jika ada waktu luang) dan aku kirimkan ke suami di rumah via message WhatsApp, sengaja aku share juga di instagram. Dan karena masalah teknis, untuk Video Slide Photo aku upload di blog ini.


Video Slide Photo #1 : Salah Satu Caraku Mencintai Suami #3



Jumat, 28 Februari 2014

Separuh Dien-ku


Alhamdulillah..Allahu Akbar
Rasanya sungguh tak ada kata yang lebih berhak untuk kuucap selain hamdalah
Sungguh nikmat yang begitu luar biasa aku rasakan telah Allah limpahkan kepadaku dan untuk keluargaku

karena suatu hal dan beberapa hal, tak banyak yang ingin aku tuliskan di sini
sekiranya cukuplah foto kami berdua yang telah dipersatukan dalam janji suci ini menggambarkan apa yang kami rasakan saat ini

alhamdulillah wa jazakumullah khoiron katsiron untuk semua yang telah membantu dan berkenan hadir di acara kami, terimakasih juga kepada semua yang telah mengirimkan doa untuk kami.. :)

Minggu, 19 Januari 2014

Cerita Parenting

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kenaikan kelas, anak perempuanku selalu mendapat ranking ke-23. Lambat laun ia dijuluki dengan panggilan nomor ini. Sebagai orangtua, kami merasa panggilan ini kurang enak didengar, namun anehnya anak kami tidak merasa keberatan dengan panggilan ini.

Pada sebuah acara keluarga besar, kami berkumpul bersama di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang adalah tentang jagoan mereka masing-masing. Anak- anak ditanya apa cita-cita mereka kalau sudah besar? Ada yang menjawab jadi dokter, pilot, arsitek bahkan presiden. Semua orang pun bertepuk tangan. Anak perempuan kami terlihat sangat sibuk membantu anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya. Didesak orang banyak, akhirnya dia menjawab:..... "Saat aku dewasa, cita-citaku yang pertama adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main". Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan apa cita-citanya yang kedua. Dia pun menjawab: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak- anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga saling pandang tanpa tahu harus berkata apa. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak hanya menjadi seorang guru TK? Anak kami sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik, tidak lagi membuat origami, tidak lagi banyak bermain. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Sampai akhirnya tubuh kecilnya tidak bisa bertahan lagi terserang flu berat dan radang paru-paru. Akan tetapi hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23.

Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.
Pada suatu minggu, teman-teman sekantor mengajak pergi rekreasi bersama. Semua orang membawa serta keluarga mereka. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan kebolehannya. Anak kami tidak punya keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang meluap ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik. Ketika makan, ada satu kejadian tak terduga. Dua orang anak lelaki teman kami, satunya si jenius matematika, satunya lagi ahli bahasa Inggris berebut sebuah kue. Tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Para orang tua membujuk mereka, namun tak berhasil. Terakhir anak kamilah yang berhasil melerainya dengan merayu mereka untuk berdamai. Ketika pulang, jalanan macet. Anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan berbagai bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing- masing. Mereka terlihat begitu gembira.

Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau rangking sekolah anakku tetap 23. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang terjadi. Hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu SIAPA TEMAN SEKELAS YANG PALING KAMU KAGUMI & APA ALASANNYA. Semua teman sekelasnya menuliskan nama : ANAKKU!

Mereka bilang karena anakku sangat senang membantu orang, selalu memberi semangat, selalu menghibur, selalu enak diajak berteman, dan banyak lagi. Si wali kelas memberi pujian: “Anak ibu ini kalau bertingkah laku terhadap orang, benar- benar nomor satu”. Saya bercanda pada anakku, “Suatu saat kamu akan jadi pahlawan”. Anakku yang sedang merajut selendang leher tiba-tiba menjawab “Bu guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.
IBU, …..AKU TIDAK MAU JADI PAHLAWAN,…. AKU MAU JADI ORANG YANG BERTEPUK TANGAN DI TEPI JALAN.


Aku terkejut mendengarnya. Dalam hatiku pun terasa hangat seketika. Seketika hatiku tergugah oleh anak perempuanku. Di dunia ini banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan. Namun anakku memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat. Seperti akar sebuah tanaman, tidak terlihat, tapi ialah yang mengokohkan. Jika ia bisa sehat, jika ia bisa hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hatinya, MENGAPA ANAK2 KITA TIDAK BOLEH MENJADI SEORANG BIASA YANG BERHATI BAIK & JUJUR…

--------------------
Cerita ini saya dapat dari hasil sharing teman di group whatsapp.

Jumat, 17 Januari 2014

mengkaji ODOJ (lagi)

Patut disyukuri, itu yang kami komentari dari fenomena ODOJ ini. Perkembangannya begitu cepat bahkan sampai ke mancanegara hanya dalam hitungan beberapa bulan. ODOJ merupakan  program, lebih tepatnya metodologi, agar orang bisa dan terbiasa, mengkhatamkan Al Quran sebulan sekali. Dengan izin Allah Ta’ala, para odojers ini dipertemukan dalam tujuan yang sama ingin mengkhatamkan Al Quran secara konsisten. Mereka mendapatkan bi’ah (lingkungan) yang baik walau tidak saling jumpa, mereka bisa saling mengingatkan, nasihat, menjaga semangat, dan tidak ada kepentingan apa pun kecuali Al Quran. Banyak kisah-kisah inspiratif dari para odojers, mereka begitu menikmatinya.
    
Upaya mengkhatamkan Al Quran sebulan sekali, merupakan salah satu jenis usaha  menjalankan perintah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut ini:

اقْرَإِ القُرْآنَ فِي شَهْرٍ
    
Bacalah (khatamkanlah) Al Quran dalam satu bulan. (HR. Al Bukhari No. 5054, dari Abdullah bin Amr)
    
Maka, menjalankan sunah qauliyah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, di tengah manusia banyak yang melupakan Al Quran, lupa dengan sunah, dan lupa dengan agamanya secara umum,  merupakan usaha yang sangat luar biasa, dan tidak mudah. Ini mesti didukung dan dikuatkan, bukan justru dicemooh   dengan dasar asumsi semata, dengan menganggapnya riya, terpaksa, dan memberatkan. Kalau pun ada yang tergelincir dalam riya, atau dia terpaksa, maka hal tersebut kembali ke pribadinya masing-masing dan hubungannya dengan Allah Ta’ala. Ketergelinciran personal ini bukan hanya terjadi pada aktifitas membaca Al Quran, tetapi bisa terjadi pada haji, shalat, shaum, memberikan muhadharah, menulis, dan sebagainya. Semua ini bisa saja ada orang yang riya dan terpaksa. Tetapi bukan berarti semua amal ini menjadi jelek, dicemooh, dan dianulir, hanya karena ada person-person yang dijangkiti riya atau terpaksa. 
    
Yang jelas, kami ingin mengapresiasi ODOJ ini dengan sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
           
“Barangsiapa dalam Islam membuat kebiasan baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahaala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa dalam Islam membuat kebiasaan buruk, maka tercatat baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim, No. 1017, At tirmidzi No. 2675, An Nasa’i No. 2554, Ibnu Majah No. 203, Ahmad No. 19156)

Menampakkan Amal Shalih? Silahkan!
    
Amat disayangkan adanya seorang penulis yang begitu bersemangat mengkritik ODOJ dengan alasan “menampakkan amal.” Dengan mengutip hadits tentang tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah Ta’ala, di antaranya seorang yang bersedekah dengan tangan kanan tetapi tangan kirinya tidak tahu. Maksudnya orang yang bersedekah sembunyi-sembunyi, yang dengannya lebih mudah untuk ikhlas.
    
Tidak hanya itu,  penulis tersebut juga memaparkan kebiasaan sebagian salaf yang lebih suka menyembunyikan amal shalih mereka, dan mereka malu jika menampakkan kepada orang lain. Ada ulama yang ketika membaca mushaf, langsung ditutupnya ketika ada orang yang melihatnya karena dia tidak mau orang tahu bahwa dia sedang membaca Al Quran, dan seterusnya. Padahal semua dalil yang dipaparkannya tak satu pun menunjukkan larangan menampakkan amal shalih,  melainkan menganjurkan pilihan yang lebih aman dan keutamaan menyembunyikan amal shalih.
    
Kita mengetahui bahwa dalam ODOJ, masing-masing anggota melaporkan hasil bacaannya kepada penanggung jawab bahwa dia sudah menyelesaikan bacaannya, atau dia sedang sakit, atau muslimah yang haid, yang dengan itu tidak bisa menyelesaikan, dan seterusnya.    Barangkali inilah yang menjadi sebab bahwa cara ODOJ ini seakan tidak syar’i, tidak sesuai sunnah.
    
Tidak ada dalilnya, baik Al Quran dan As Sunnah, menganggap menampakkan amal itu suatu yang buruk, tercela, dan terlarang,  justru kadang  menampakkan lebih baik dalam rangka menstimulus orang lain. Dengan itu dia bisa menjadi inisiator sunah hasanah yang diikuti banyak orang. Apalagi dalam keadaan terasingnya sebuah sunah di masyarakat, atau terasingnya kebiasaan baik, maka kembali menghidupkan dan mensyiarkannya secara terang-terangan adalah suatu yang mulia dan memliki keutamaan, sebab dia menghidupkan ajaran Islam yang tengah redup. Ada pun keadaan hati si pelakunya, apakah dia riya, ikhlas, sum’ah, de el el,  serahkan kepada Allah Ta’ala, dan seorang muslim hendaknya berbaik sangka kepada saudaranya, bukan justru melemahkan dengan menyebutnya sebagai amal yang sebaiknya disembunyikan!

Allah Ta’ala Memuji Amal yang terangan dan tersembunyi
    
Kita akan dapatkan dalam pelita hidup setiap muslim, wahyu yang tidak ada keraguan di dalamnya, yang semua isinya adalah haq, yaitu Al Quran Al Karim, tentang anjuran beramal baik secara terang-terangan atau tersembunyi. Kedua cara ini memiliki ketumaan masing-masing. Tidaklah yang satu mendestruksi yang lain. Ini hanyalah masalah pilihan, yang keduanya sama-sama bagus. 
    
Kami akan sampaikan beberapa ayat tentang pujian Allah Ta’ala dan perintahNya kepada manusia untuk berinfak secara tersembunyi atau terang-terangan. 

Perhatikan ayat-ayat berikut ini:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, Maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al Baqarah 274)

Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah menerangkan:

هذا مدح منه تعالى للمنفقين  في سبيله، وابتغاء مرضاته في جميع الأوقات من ليل أو نهار، والأحوال من سر وجهار، حتى إن النفقة على الأهل تدخل في ذلك أيضا

Ini adalah sanjungan dari Allah Ta’ala bagi para pelaku infak dijalanNya, dan orang yang mencari ridhaNya disemua waktu, baik malam dan siang, dan berbagai keadaan baik tersembunyi atau terang-terangan, sampai – sampai nafkah kepada keluarga juga termasuk dalam kategori ini. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/707. Cet. 2. 1999M/1420H. Daruth Thayyibah.)
    
Ayat lainnya:

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang Itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (QS. Ar Ra’du: 22)

Ayat lainnya:

قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خِلَالٌ

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.” (QS. Ibrahim: 31)
     
Lihat ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan berinfak baik secara sembunyi atau terang-terangan,  Allah Ta’ala tidak memerintahkan yang sembunyi saja, tapi juga memerintahkan yang terang-terangan. Tidak mencelanya, justru memerintahkannya. 
    
Al Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

وأمر تعالى بالإنفاق مما رزق في السر، أي: في الخفية، والعلانية وهي: الجهر، وليبادروا إلى ذلك لخلاص أنفسهم
    
Allah Ta’ala memerintahkan untuk berinfak secara as sir, yaitu tersembunyi, dan al ‘alaaniyah yaitu ditampakkan, dan hendaknya mereka bersegara melakukan itu untuk mensucikan diri mereka. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/510. Cet. 2. 1999M/1420H. Daruth Thayyibah)
    
Terang-terangan atau tersembunyi, keduanya bisa dilakukan pada amal yang wajib atau sunah. Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rahimahullah:

{سِرًّا وَعَلانِيَةً} وهذا يشمل النفقة الواجبة كالزكاة ونفقة من تجب عليه نفقته، والمستحبة كالصدقات ونحوها.
    
(Tersembunyi dan terangan-terangan) hal ini mencakup infak yang wajib seperti zakat, dan nafkah kepada orang yang wajib baginya untuk dinafkahi, dan juga yang sunah seperti berbagai sedekah dan semisalnya. (Taisir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir  Kalam Al Manan, Hal. 426. Cet. 1. 2000M/1420H. Muasasah Ar Risalah)  
    
Maka, berinfak –atau amal shalih apa saja- yang dilakukan secara tersembunyi dan menampakkannya, telah dimuliakan, dipuji, dan dianjurkan oleh Allah Ta’ala. Janganlah hawa nafsu manusia justru menganggap tercela yang satu dibanding yang lainnya. Jika tersembunyi, maka itu mulia karena hati Anda lebih selamat dari ‘ujub, riya’, jika terkait sedekah maka orang yang menerima sedekah tidak merasa malu menerimanya. Jika terang-terangan, maka itu juga mulia, karena Anda bisa menjadi pionir kebaikan, menjadi contoh buat yang lain, sehingga selain Anda mendapatkan pahala sendiri, Anda juga mendapatkan pahala mereka lantaran mereka mengikuti kebaikan Anda. 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun memuji orang yang menampakkan amalnya
    
Alangkah baiknya jika ini juga diketahui oleh penulis tersebut. Jangan hanya menampilkan satu gambaran tentang para ulama yang sembunyi-sembunyi membaca Al Quran, tapi lupa menampilkan yang lainnya. Para sahabat nabi pun menampakkan amalnya, dan nabi tidak mencelanya justru memujinya. Telah masyhur

Para salaf jika berkumpul, mereka memperdengarkan salah seorang mereka untuk membaca Al Quran. Mereka tidak mengatakan, “Pelan-pelan aja suaranya, banyak  orang nih, nanti kamu riya.” Ada pun para ODOJers, mereka membacanya masing-masing di rumah, tidak berjamaah, kadang dikantor, kadang di kendaraan, itu pun tanpa mengeraskan suara, sehingga tidak ada yang terganggu dengan suara mereka. 
    
Imam An Nawawi Rahimahullah memaparkan:

اعلم أن جماعات من السلف كانوا يطلبون من أصحاب القراءة بالأصوات الحسنة أن يقرؤوا وهم يستمعون وهذا متفق على استحبابه وهو عادة الأخيار والمتعبدين وعباد الله الصالحين وهى سنة ثابتة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم  …..
    
Ketahuilah, banyak perkumpulan para salaf dahulu mereka meminta orang yang ahli baca Al Quran untuk membaca dengan suara yang bagus, mereka membacanya dan yang lain mendengarkannya. Ini disepakati sebagai hal yang disukai, dan merupakan kebiasaan orang-orang pilihan dan ahli ibadah, hamba-hamba Allah yang shalih. Dan, itu merupakan sunah yang pasti dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam…. (lalu Imam An Nawawi menyebutkan kisah Abdullah bin Mas’ud yang membaca  Al Quran di hadapan nabi dan para sahabat lainnya, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Imam Muslim).  (At Tibyan fi Aadab Hamalatil Quran, Hal. 113)  
    
Lihat ini, justru para salaf meminta untuk menampakkannya, mereka ingin menikmatinya. Begitu pula Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap bacaannya Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, padahal wahyu turun kepadanya sendiri, tapi beliau ingin mendengarkannya dari orang lain.
    
Lalu Imam An Nawawi melanjutkan:

أنه كان يقول لأبي موسى الأشعري ذكرنا ربنا فيقرأ عنده القرآن. والآثار في هذا كثيرة معروفة
    
Bahwa Nabi berkata kepada Abu Musa Al Asy’ari: “Ingatkanlah kami kepada Rabb kami.” Maka Abu Musa membacakan Al Quran dihadapannya. Dan, Atsar-atsar seperti ini banyak dan telah dikenal. (Ibid, Hal. 114)
    
Nah, tak satu pun ada peringatan sesama mereka saat mereka meminta sahabatnya membaca Al Quran, “hati-hati riya ya …”, atau “jangan tampakkan suaramu kepada kami ..”.

Melaporkan dan menceritakan amal shalih, adalah riya?
    
Dalam komunitas ODOJ, ada penanggungjawab yang menerima laporan harian anggotanya, sudah sampai mana bacaannya, apakah sudah selesai satu juz atau belum. Hal ini tidak mengapa, sebagaimana seorang guru yang menanyakan hasil kerjaan, tugas hapalan, siswanya dan si guru memberikan batas waktu. Ini adalah tuntutan profesionalitas dalam beramal. Ini pun dilakukan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya. 
    
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bercerita tentang amal shalihnya:

وإني لأستغفر الله، في اليوم مائة مرة
    
Aku benar-benar beristighfar kepada Allah dalam sehari 100 kali. (HR. Muslim, 2702/41)
    
Riwayat lainnya:

يا أيها الناس توبوا إلى الله، فإني أتوب، في اليوم إليه مائة، مرة    
    
Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sesungguhnya dalam sehari aku bertaubat kepadaNya seratus kali. (HR. Muslim, 2702/42)
    
Para sahabat pun juga. Perhatikan dialog berikut ini:

عن أبي هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «من أصبح منكم اليوم صائما؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، قال: «فمن تبع منكم اليوم جنازة؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، قال: «فمن أطعم منكم اليوم مسكينا؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، قال: «فمن عاد منكم اليوم مريضا؟» قال أبو بكر رضي الله عنه: أنا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «ما اجتمعن في امرئ، إلا دخل الجنة»

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Siapakah diantara kalian yang hari ini berpuasa?” Abu Bakar menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi: “Siapakah diantara kalian yang hari ini mengantar janazah?” Abu Bakar menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi: “Siapakah diantara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?” Abu Bakar menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah bertanya lagi: “Siapakah diantara kalian yang hari ini menjenguk orang sakit?” Abu Bakar menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda : “Tidaklah semua amal di atas terkumpul dalam diri seseorang melainkan ia akan masuk surga.” (HR. Muslim 1028)
    
Inilah Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu, dia tidak perlu malu untuk melaporkan apa yang sudah dia lakukan hari itu. Maka, tidak masalah seseorang menceritakan amalnya, yang  penting  tidak bermaksud memamerkannya, dan membanggakannya, tetapi agar orang lain mendapatkan ‘ibrah darinya. Pendengar pun tidak dibebani untuk membedah hati orang yang melaporkannya. Itu tidak perlu, tidak penting, dan tidak masyru’. Justru, yang masyru’ adalah kita mesti husnuzhzhan kepadanya.
    
Para ulama mengatakan:

إحسان الظن بالله عز وجل وبالمسلمين واجب 
    
Berprasangka yang baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kaum muslimin adalah wajib. (Imam Badruddin Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 29/325)
    
Kisah lainnya:

 عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: أَرْسَلَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُنْطَلِقٌ إِلَى بَنِي الْمُصْطَلِقِ، فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يُصَلِّي عَلَى بَعِيرِهِ ، فَكَلَّمْتُهُ، فَقَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا، ثُمَّ كَلَّمْتُهُ، فَقَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَأَنَا أَسْمَعُهُ يَقْرَأُ، وَيُومِئُ بِرَأْسِهِ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: " مَا فَعَلْتَ فِي الَّذِي أَرْسَلْتُكَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُصَلِّي.

Dari Jabir bin Abdullah katanya: “Saya diperintahkan nabi untuk datang, saat itu beliau hendak pergi ke Bani Musthaliq. Ketika saya datang beliau sedang shalat di atas kendaraannya. Saya pun berbicara kepadanya dan beliau memberi isyarat dengan tangannya seperti ini. Saya berbicara lagi dan beliau memberi isyarat dengan tangannya, sedangkan bacaan shalat beliau terdengar oleh saya sambil beliau menganggukkan kepala. Setelah beliau selesai shalat beliau bertanya: “Bagaimana tugasmu yang padanya kamu saya utus? Sebenarnya tak ada halangan bagi saya membalas ucapanmu itu, hanya saja saya sedang shalat.” (HR. Muslim No. 540, Ahmad No. 14345, Abu Daud No. 926, Abu ‘Awanah, 2/140, Ibnu Khuzaimah No. 889, Ibnu Hibban No. 2518, 2519) 
    
Dalam kisah ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meminta laporan kerja dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu tanpa harus khawatir riya-nya Jabir jika dia melaporkannya. 
    
Banyak sekali kitab yang menceritakan para ulama yang  berkisah tentang ibadahnya, shaumnya, shalatnya, jihadnya, bahkan mimpinya. Tentu kita berbaik sangka, jangan menuduh mereka telah riya dalam penceritaannya.

Menggembos amal shalih dengan menuduh riya adalah Akhlak Kaum Munafiq

    
Inilah yang terjadi, gara-gara seseorang menuduh saudaranya riya, atau menakut-nakuti dari menampakkan amal shalih, akhirnya perlahan-lahan ada yang membatalkan amal shalihnya karena takut disebut riya, takut tidak ikhlas. 
    
Inilah yang dilakukan orang munafiq pada zaman nabi, mereka menuduh para sahabat riya, padahal mereka (kaum munafiq) sendiri yang riya.
    
Dari Abu Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, dia bercerita:

“Sesudah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka Abu Uqail bersedekah dengan satu sha’, dan datang seseorang dengan membawa lebih banyak dari itu, lalu orang-orang munafik berkata: 

“Allah ‘Azza wa Jalla tidak membutuhkan sedekah orang ini, orang ini tidak melakukannya kecuali dengan riya. Lalu turunlah ayat: 

  الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ 

“Orang-orang munafik itu yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya.” (QS. At Taubah : 79). (HR. Al Bukhari No. 4668)

Justru Allah Ta’ala menceritakan bahwa kaum munafikinlah yang riya.

Perhatikan ayat ini:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5) الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ (6)

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya. (QS. Al Ma’un: 4-6)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, bahwa ayat ini menceritakan tentang sifat-sifat orang munafiq; lalai dari shalatnya, sekali pun shalat dia riya.  Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  mengulang sampai tiga kali ucapan: tilka shalatul munaafiq (itulah shalatnya kaum munafik). Sebagaimana disebutkan dalam Shahihain. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/493)

Maka ... wahai Saudaraku ...

Janganlah kamu melemahkan dan menggembosi amal saudaramu ..., biarkanlah mereka beramal, membaca Al Quran satu juz sehari sesuai target dan program mereka. Karena Nabi kita tidak pernah memerintah kita membedah hati manusia, serahkanlah hati manusia kepada Allah Ta’ala.
    
Adakah kamu ketahui bahwa saudara-saudaramu itu menuntaskan satu juz Al Quran sehari untuk pujian manusia? Mencari popularitas dan kedudukan? 
    
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkata kepada Khalid bin Walid Radhiallahu ‘Anhu:

إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أَنْقُبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلاَ أَشُقَّ بُطُونَهُمْ
    
Aku tidak diperintah menyelidiki hati manusia dan tidak pula membedah perut mereka. (HR. Al Bukhari No. 4351, Muslim, 1064/144)
    
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah berkata kepada Usamah bin Zaid Radhiallahu ‘Anhu:

أفلا شققت عن قلبه حتى تعلم أقالها أم لا؟
    
“Apakah engkau sudah membedah dadanya sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak?” (HR. Muslim, 96/158) 
    
Sederhananya, jangan mudah menyalah-nyalahkan amal shalih saudaramu, yang bisa jadi amal shalih tersebut belum tentu kamu bisa lakukan.
    
Karena Allah Ta’ala berfirman:

مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ

Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. (QS. At Tawbah: 91)

Wahai Saudaraku ……… Arahkan penamu ke pelaku maksiat yang terang-terangan, bukan kepada saudaramu yang sedang berlomba amal shalih secara terang-terangan.
    
Alangkah baiknya, penamu itu kamu arahkan untuk mereka yang terang-terangan  beramal buruk, menyimpang, dan maksiat lainnya. Itu semua ada dihadapanmu. Kenapa begitu gagah dihadapan para pelaku kebaikan, tapi layu dihadapan para pelaku kemaksiatan? Allahul Musta’an!

Untuk Para ODOJers ……….
    
Alangkah indahnya nasihat Al Imam Fudhail bin ‘Iyadh Rahimahullah:

“Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya` sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan, adapun yang namanya ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” (Ucapan ini tersebar dalam banyak kitab, seperti Minhajul Qashidin-nya Imam Ibnu Qudamah, Tazkiyatun Nufuus-nya Imam Ibnu Rajab, dll)

Janganlah kalian batalkan amal shalih itu karena komentar miring manusia, dan jangan pula kalian lakukan  karena mengharapkan ridha manusia, tetaplah beramal, dan  jangan pernah pikirkan semua komentar yang membuat hati kalian guncang. Urusan kalian adalah kepada Allah Ta’ala bukan dengan mereka. Sibukkanlah hati kalian denganNya, biarlah mereka sibuk  menyelediki  hati kalian, sehingga mereka lupa dengan hatinya sendiri. Sebab di akhirat nanti kullu nafsimbima kasabat rahiinah (setiap jiwa bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing).  Memintalah kepada Allah Ta’ala agar tetap dijaga dan selamatkan dari riya dan kesyirikan dalam beramal.
    
Wallahu A’lam Walillahil ‘Izzah walir Rasulih wal Mu’minin

Farid Numan Hasan

-------------------------------

Tulisan ini saya ambil dari ustadzaris.com sebagai penyeimbang tulisan pertama (kemaren) yang saya publikasikan.

Sengaja untuk setiap tulisan dari orang yang saya publikasikan di blog saya ini tidak saya beri kesimpulan, saya hanya memberi sedikit kesan atau alasan mengapa saya perlu mengambil tulisan orang, supaya pembaca memilah sendiri, mempertimbangkan dengan ilmu yang dimiliki dan bisa mengambil hikmah dari tulisan tersebut.